Manado, Merdeka17.id – Publik kini bertanya-tanya, setelah dibabatnya 7 (tujuh) pohon mahoni di antara lintasan atlit dan lapangan tenis di Gelora Wolter Mongisidi, Sario, Manado, Provinsi Sulawesi Utara yang diduga atas perintah dari Dinas Kepemudaan dan Olah Raga Daerah Provinsi Sulawesi Utara, batang kayunya ke mana?
Beberapa sumber di Lapangan KONI Sario Manado mengaku tidak tahu di mana rimbanya batang-batang pohon tersebut? “Bahkan untuk meminta sisa-sisa pohon (limbah) yang ditebang, yakni dahan dan cabang, pihak penebang tidak mengizinkannya,” jelas sumber.
Nilai Ekonomis Tinggi
Pemerhati lingkungan bernama Alo, menuntut transparansi dari pelaksana penebangan pohon mahoni tersebut. Karena pohon seumuran itu, baik kayu dan limbahnya, memiliki nilai ekonomis yang signifikan karena mahal dan langka. “Kami mendorong agar pihak penebang mempublikasikan keberadaan kayu dan limbah pohon mahoni tersebut,” tegas Alo.
Ada Izin Tebang?
Tanggapan kaum intelektual Prof. Dr. Ir. Janny D. Kusen, M.Sc. bahwa pihak pemberi perintah tebang semestinya memotong satu pohon dulu dan lihat reaksi publik. Jika publik maklum, barulah ditebang seluruhnya. “Kalo skarang, ya, tanam ulang, kong tunggu 25 taong,” kata Janny D. Kusen via WhatsApp.
Dicontohkan, di Belanda, setiap pohon yang ditanam, sekali pun di halaman sendiri, otomatis menjadi milik publik dan didaftar ke Pemkot. Kanopi pohon memberi O2 dan menyerap CO2 di saat pohon berfotosintesis karena baik untuk lingkungan hidup. “Kalu mo tebang ato pangkas musti minta ijin Pemkot,” tambah Janny D. Kusen.

Tidak Digubris
Media ini juga mendapat informasi bahwa sejak kunjungan Gubernur Yulius Selvanus di Gelora (Gelanggang Olah Raga) Wolter Mongisidi beberapa waktu lalu, tersirat bahwa areal ini akan dilakukan renovasi gedung.
Oleh pemerhati lingkungan, sebenarnya, sudah meminta agar Kepala Dinas Kepemudaan dan Olah Raga Daerah Provinsi Sulawesi Utara untuk tidak menebang pohon mahoni yang sudah berumur lebih dari 25 tahun namun tidak digubris–sebagaimana tertulis dalam WhatsApp Group.
Kadis beralasan bahwa keberadaan pohon-pohon itu sudah sangat menggangu dan bisa mencederai pengguna fasilitas olah raga di situ. Bukannya dipangkas malah ditebang.
Senada dengan Prof. Dr. Ir. Janny D. Kusen, M.Sc., menurut Alo, banyak manfaat yang diperoleh dari pohon yang ditanam dan tumbuh di areal atau kompleks Gelora Wolter Mongisidi, Sario, Manado.
Selain manfaat ekologis (menyediakan oksigen (O2) dan menyerap karbon dioksida (CO2)) juga memberi manfaat psikologis, yakni membuat lingkungan terasa lebih nyaman dan sejuk bagi masyarakat pengunjung baik yang berolah raga maupun yang datang berteduh dari teriknya sinar matahari.
Selain itu, bisa dijadikan tempat berteduh bagi pengguna Lapangan KONI Sario saat upacara, kerohanian, atau pun panitia penerimaan tertentu.***
Pewarta: Iwan Ngadiman

