Manado, Merdeka17.id – Elis Ratnawati, S.Psi., M.Si., Psikolog terpilih sebagai Ketua IPK (Ikatan Psikolog Klinis) Indonesia Wilayah Sulawesi Utara periode 2026-2030 dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) pada Jum’at, 10 April 2026 di Best Western The Lagoon Hotel Manado.
Muswil ini terdiri atas dua agenda utama, yaitu webinar nasional Intervensi Cognitive Behavior Therapy (CBT) pada Kasus Kekerasan Seksual yang telah dilaksanakan pada Sabtu, 28 Maret 2026, dan Musyawarah Wilayah yang menetapkan kepengurusan baru periode 2026-2030. Kegiatan ini mengangkat tema “Mewujudkan Sitou Timou Tumou Tou Bagi Kesejahteraan Psikologis Masyarakat Sulawesi Utara“.

IPK Indonesia Wilayah Sulawesi Utara merupakan bagian dari organisasi profesi tenaga kesehatan psikologi klinis IPK Indonesia. IPK Indonesia adalah organisasi profesi tenaga kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan, berbadan hukum sejak 2017 (SK AHU-0014545.AH.01.07), dengan lebih dari 4.000 anggota psikolog klinis di 32 wilayah, termasuk Sulawesi Utara, dan berpraktik di fasilitas kesehatan pemerintah, swasta, perguruan tinggi, serta berbagai instansi lainnya.
Selanjutnya, ketua terpilih Elis Ratnawati, S.Psi., M.Si., Psikolog menyampaikan komitmen untuk menjalankan program dan kegiatan yang akan disusun dengan menghimpun aspirasi anggota dan program/kegiatan sebelumnya.
Kegiatan ilmiah berupa webinar nasional dengan topik “Intervensi Cognitive Behavior Therapy (CBT) pada Kasus Kekerasan Seksual” menghadirkan narasumber Dr. Mona Sugianto, M.Psi., Psikolog dan diikuti oleh 78 peserta yang terdiri dari kalangan psikolog klinis.
Pengurus periode tahun 2022-2026 menyampaikan laporan pertanggungjawaban. Sejumlah capaian program pada kepengurusan tersebut di antaranya IPK Indonesia Wilayah Sulawesi Utara turut mendukung program World Health Organization (WHO) dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui kegiatan “Kick Off Pengembangan Model Layanan Kesehatan Jiwa Berbasis Masyarakat” yang dilaksanakan di Kota Manado pada tahun 2024.
Selain itu, layanan psikologi klinis di Puskesmas difokuskan pada upaya preventif dan promotif melalui konseling, psikoedukasi, dan sosialisasi kesehatan mental. Inovasi layanan kesehatan primer ini juga memberikan dampak positif, yakni meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan mental, kemudahan akses layanan di tingkat kabupaten/kota, serta berkurangnya rujukan kasus gangguan kesehatan mental.*** (r)
Pewarta: Iwan Ngadiman

