Oleh Prof. Ir. Arthur Gehart Pinaria, M.P., Ph.D.
Pendahuluan
Program swasembada pangan dan ketahanan pangan merupakan prioritas utama Pemerintah Indonesia untuk memastikan ketersediaan pangan yang cukup, berkualitas, dan terjangkau bagi seluruh masyarakat. Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan dalam waktu lima tahun ke depan swasembada pangan sebagai program prioritas utama di Indonesia. Tahun 2025, pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp.139,4 triliun untuk mendukung berbagai inisiatif di sektor ini. dengan alokasi anggaran seperti ini menunjukkan komitmen yang kuat dari pemerintah untuk mewujudkan ketahanan pangan.
Mengoptimalkan sumber daya lokal dengan menggunakan daluga sebagai alternatif pangan lokal merupakan strategi penting untuk ketahanan pangan dan swasembada pangan. Mengoptimalkan sumber daya lokal menunjukkan komitmen pemerintah untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan dan pemberdayaan komunitas lokal di Indonesia.
Keterlibatan pangan lokal seperti daluga dalam program swasembada pangan diharapkan dapat memperkuat upaya pemerintah dalam mengurangi ketergantungan pada impr dan menstabilkan pasokan pangan nasional dalam situasi krisis atau ketegangan geopolitik yang mungkin menghambat impor. Ketergantungan yang tinggi pada impor membuat negara rentan terhadap gangguan pasokan global.
Gizi Tinggi
Daluga adalah nama lokal yang diberikan oleh masyarakat untuk tanaman talas rawa yang terdapat di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Daluga berpotensi sebagai tanaman pangan alternatif sejak puluhan tahun lalu. Daluga (Cyrtosperma merkusii (Hassk.) Schott) dalam bahasa Inggris disebut Giant Swamp Taro (Talas Rawa Raksasa), Swamp Taro (Talas Rawa), dan Gallan.
Di Sulawesi Utara tanaman daluga banyak terdapat di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Tanaman daluga juga terdapat di Pulau Miangas. Masyarakat setempat menyebutnya puraha. Tanaman daluga di daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe terdapat di Tamako, Manganitu Selatan, dan Tatoareng.
Masyarakat Kabupaten Kepulauan Sangihe khususnya di Tamako dan Manganitu Selatan menjadikan umbi daluga sebagai makanan pokok sejak puluhan tahun lalu, tetapi saat ini hanya dijadikan makanan alternatif sejak masyarakat mengenal beras. Umbi daluga dapat dikonsumsi setelah dimasak dengan cara direbus, dikukus, digoreng, dan dapat diolah menjadi kue ketang-ketang, keripik, dan beberapa jenis kue kering.
Ukuran dan berat umbi tergantung pada varietas dan umur tanaman. Daluga sangihe berat umbinya berkisar 2-5 kg, warna coklat, daging kuning atau putih.
Daluga dijadikan sebagai tanaman pangan karena umbinya memiliki nilai gizi yang tinggi, tetapi belum banyak dibudidayakan oleh masyarakat luas. Umbi daluga mengandung karbohidrat, protein, sedikit lemak, seng, kalsium, dan beta karoten. Kandungan beta karoten umbi daluga kultivar kuning lebih tinggi, yaitu berkisar 5-4486 ug/100 gram. Beras analog berbasis umbi daluga yang berasal dari Sangihe mengandung kadar air 7,88%, dan total karbohidrat 83,44%.
Berikut perbandingan nutrisi dari 100gram porsi yang dapat dimakan dari daluga yang direbus, dengan nasi putih (Dignan, dkk. 2004):
| Nutrition Factors | Daluga | Rice |
| KCal | 72 | 123 |
| Fibre (g) | 2,5 | 0,8 |
| Carbohydrat (g) | 31 | 79 |
| Calcium (mg) | 165 | 4 |
| Iron (mg) | 0,6 | 0,3 |
| Zinc (mg) | 1,9 | 0,6 |
| Thiamine (mg) | 0,02 | 0,03 |
| Vitamin C (mg) | 7,9 | 0 |
Penutup
Umbi tanaman daluga memiliki nilai gizi yang tinggi. Umbi tanaman daluga mengandung karbohidrat, protein, sedikit lemak, seng, kalsium, dan beta karoten. Umbi daluga dapat dikonsumsi setelah dimasak dengan cara direbus, dikukus, digoreng, dan dapat diolah menjadi kue ketang-ketang, keripik, dan beberapa jenis kue kering. Sebagai alternative pangan lokal, umbi daluga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan swasembada pangan yang merupakan program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Mengoptimalkan sumber daya lokal menunjukkan komitmen pemerintah untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan dan pemberdayaan komunitas lokal di Indonesia.***
Tulisan ini disampaikan di Orasi Ilmiah Guru Besar Universitas Sam Ratulangi pada tanggal 16 Januari 2025.
Prof. Ir. Arthur Gehart Pinaria, M.P., Ph.D. adalah Profesor/Guru Besar dalam ranting ilmu/kepakaran Patologi Tumbuhan/Fitopatologi; Wakil Rektor Bidang Akademik Unsrat.
–

