Merdeka17.id – FISIP Unsrat menggelar Seminar Internasional bertajuk “Democracy in Southeast Asia” (Demokrasi di Asia Tenggara) di Aula FISIP Unsrat pada Jumat, 07 Juni 2024.
Dekan Dr. Daud M. Liando, S.I.P., M.Si. ketika membuka acara itu mengatakan bahwa tujuan kegiatan ini adalah untuk saling berbagi tentang demokrasi dan politik.
Seminar ini menampilkan tiga narasumber, yakni: Ketua Umum Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Dr. Alfitra Salaman, APU, Prof. Thomas R. Seitz, Ph.D. dari University of Wyoming, Amerika, dan Dr. George T. Ikbal Tawakall dari FISIP Universitas Brawijaya.

Dr. Alfitra Salaman, APU menyampaikan, demokrasi yang dilakukan bangsa Indonesia mengalami banyak perubahan yang masih dipertanyakan apakah perubahan itu sesuai dengan budaya Indonesia atau tidak?
“Sistem politik Asia Tenggara ini, sejak tahun 60-an itu kebanyakan otoriter dan perubahan sejak reformasi sampai ada yang menarik dari demokrasi kita. Apakah demokrasi yang di Indonesia sesuai dengan budaya kita?” tanya Alfitra.
Politik Uang
Prof. Thomas R. Seitz, Ph.D. menjelaskan bahwa pihaknya fokus pada pemilu lokal di Indonesia yang bernuansa uang. “We focus on local rather than national elections. We explore the cultural variable in democratization processes and provides a closer, more ruanced exploration of the meaning of money in Indonesian elections,” jelas Prof. Thomas R. Seitz, Ph.D.
Sementara itu, Dr. George T. Ikbal Tawakall juga mengatakan bahwa terkait dengan dugaan awal yaitu politik uang masih mendominasi di Pilkades daripada jenis pemilu lainnya. Mereka menduga bahwa politik uang lebih besar daripada jenis pemilu lainnya. Fakta lapangannya adalah tidak sebandingnya antara pendapatan dan biaya pulang kampung serta jumlah uang yang diberikan yang tidak bisa diprediksi.
Seminar ini dihadiri oleh civitas akademika FISIP Unsrat, yakni: para wakil dekan, ketua jurusan, koordinator program studi, staf dosen, dan mahasiswa.***
Kontributor: Meiling K. Siape
Editor: Iwan Ngadiman

