Manado, Merdeka17.id – Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus diharapkan tidak tutup mata dengan penebangan liar sebanyak 7 (tujuh) pohon termasuk mahoni di Gelora Wolter Mongisidi Manado yang terjadi selama lebih sepekan ini.
Hingga Kamis, 08 Mei 2025 pagi, media ini belum berhasil mengkonfirmasi akan hal ini ke Kepala Dinas Kepemudaan dan Olah Raga Daerah Provinsi Sulawesi Utara karena berhalangan. Namun terkonfirmasi bahwa penebangan ini diduga adalah liar karena tidak memiliki izin dari Pemkot Manado.
Penelusuran media ini, pemberi perintah tebang adalah dari Dinas Kepemudaan dan Olah Raga Daerah Provinsi Sulawesi Utara yang menyebabkan terjadi kerusakan lingkungan hidup di gelora itu.
Raib
Pantauan media ini pada Sabtu, 10 Mei 2025 sore di gelora tersebut, menimbulkan polusi akibat limbah daun, ranting, dan serbuk kayu bekas gergajian yang dibiarkan begitu saja berserakan di sepanjang lintasan atlit, terutama yang bersebelahan dengan lapangan tenis. Hal ini dapat mengakibatkan ganggunan kesehatan bagi masyarakat yang sedang berolah raga di situ.
Publik pun masih bertanya-tanya, limbah (batang/kayu) ketujuh pohon termasuk mahoni tersebut telah raib atau tidak tahu di mana rimbanya. Untuk itu, publik menganggap, apa yang dilakukan oleh pemberi perintah tebang tersebut adalah suatu tindakan yang tidak terpuji, otoriter, dan semena-mena.
Tebang Lagi?
Sumber di Lapangan KONI Sario Manado bernama Benli–pegiat olah raga– menyebutkan, ketika dia sedang berolah raga pada Kamis, 08 Mei 2025 malam dia mendapati ada satu pohon lagi yang terletak di pojok–kira-kira di depan PLN, kayunya sudah dipotong-potong menjadi lembar-lembar papan dan siap diangkut.
Sebagaimana pernah diberitakan, pemerhati sekaligus pencinta lingkungan Arie Timbuleng, S.H. mengkategorikan bahwa kasus ini adalah pengrusakan lingkungan hidup. Sebagai mantan Polisi Hutan, dia pun mengungkapkan bahwa pohon mahoni seumuran ini, baik kayu dan limbahnya, memiliki nilai ekonomis yang signifikan karena mahal dan langka.

“Kami mendorong agar pihak penebang mempublikasikan keberadaan kayu dan limbah pohon mahoni tersebut,” tegas Arie Timbuleng.
Baik Benli maupun Arie Timbuleng–termasuk komunitas olah raga yang sering beraktivitas di gelora tersebut– berharap agar Gubernur Yulius Selvanus tidak tutup mata dengan pengrusakan lingkungan hidup yang terjadi Gelora Wolter Mongisidi Manado ini.***
Pewarta: Iwan Ngadiman

