Merdeka17.id – Pada Jum’at, 28 September 2018 terjadi gempa bumi tektonik di Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah, pukul 18.02.44 WITA dengan M 7.7. Lokasi 0.18 LS dan 119.85 BT, dan jarak 26 km dari Utara Donggala Sulawesi Tengah, dengan kedalaman 10 km. Gempa ini memicu tsunami hingga ketinggian 1,5 – 2,0 meter di Kota Palu.
Laporan monitoring dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (disingkat BMKG), hingga pukul 03.55 WITA (29 September 2018), telah terjadi 76 gempa bumi susulan yang tercatat, dengan magnitude terbesar M6.3, dan terkecil M2.9.
Dampak guncangan gempa bumi ini dirasakan di Donggala VII-VIII MMI, Palu, Mapaga VI-VII MMI, Gorontalo dan Poso III-IV MMI, Majene dan Soroako III MMI, Kendari, Kolaka, Konawe Utara, Bone, Sengkang, Kaltim dan Kaltara II – III MMI, Makassar, Gowa, dan Toraja II MMI.
Sesar Palu-Koro
Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktifitas Sesar Palu-Koro. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa ini, dibangkitkan oleh deformasi (perubahan bentuk/wujud) dengan mekanisme pergerakan dari struktur sesar mendatar (Slike-Slip).
Sesar Palu-Koro (bahasa Inggris: Palu-Koro Fault) atau Patahan Palu-Koro merupakan salah satu peristiwa tektonik atau pergeseran lapisan kulit bumi karena terlepasnya energi di zona penunjaman. Sesar Palu-Koro terbentuk akibat tekanan yang timbul dari benturan benua kecil (mikrokontinen) Banggai-Sula yang merangsek ke arah barat di mana Pulau Sulawesi berada. Peristiwa benturan benua kecil ini diperkirakan terjadi pada 5-0 juta tahun yang lalu.
Zona penunjaman adalah wilayah tempat dua lempeng tektonik bertumbukan, di mana satu lempeng yang lebih padat akan menunjam (masuk) ke bawah lempeng lain, dan terkonsumsi di dalam mantel bumi. Fenomena ini dapat menyebabkan aktivitas seismik seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, dan berpotensi menghasilkan tsunami.

Korban
Gempa bumi ini adalah salah satu gempa bumi paling mematikan yang pernah ada di Indonesia, serta bencana alam paling mematikan secara global pada tahun 2018. BMKG mengkonfirmasi bahwa bahwa tsunami dengan ketinggian mencapai maksimum 4 hingga 7 meter (13 hingga 23 kaki), melanda pemukiman di Kota Palu, Donggala, dan Mamuju.
Dari catatan yang ada, sebanyak 3.879 orang tewas akibat gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi (fenomena hilangnya kekuatan lapisan tanah akibat beban getaran gempa) yang terjadi pada tanggal 28 September 2018 ini. Dari total korban jiwa, diperkirakan 1.252 orang tewas akibat tsunami.
Sumber lain menyebutkan bahwa total korban meninggal akibat gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada tanggal 28 September 2018 sekitar 4.340 orang.

Tercatat, ada tiga atlet paralayang dan olahraga ekstrim asal Provinsi Sulawesi Utara yang tewas tertimbun material bangunan Hotel Roa-Roa, yakni Franky Kowaas, Petra Mandagi, dan Gleen Mononutu.
Langka
Gempa tersebut menyebabkan pencairan tanah besar-besaran di wilayah Kota Palu dan sekitarnya. Di dua lokasi, hal ini menyebabkan semburan lumpur yang menyebabkan banyak bangunan terendam dan menyebabkan ratusan korban jiwa dan banyak lagi yang hilang. Pencairan tanah tersebut dianggap yang terbesar di dunia dan dianggap langka.*** (dari berbagai sumber)
Pewarta: Iwan Ngadiman

