Manado, Merdeka17.id – Mahasiswa tidak hanya dituntut mampu menyampaikan kritik, tetapi juga perlu mengambil peran dalam menghadirkan solusi di tengah persoalan sosial, politik, dan ekonomi Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Dr. Drs. Aos Kuswandi, M.Si.–Dosen Magister Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Indonesia, dalam Seminar Nasional bertajuk “Peran Mahasiswa Sebagai Jembatan Solusi di Tengah Gejolak Sosial Politik dan Ekonomi Indonesia” yang digelar di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT), Selasa, 15 September 2026.
Dalam materinya, Aos Kuswandi menjelaskan tiga peran yang dapat dijalankan mahasiswa, yakni: the solver, the guardian, dan the builder.
Jangan Cuma Demo
Sebagai the solver, mahasiswa didorong untuk tidak berhenti pada aksi demonstrasi, tetapi mampu menciptakan solusi sesuai minat dan kemampuan masing-masing. Ia mencontohkan mahasiswa Ilmu Komunikasi dapat berkontribusi melalui pelatihan public speaking bagi masyarakat. “Jangan cuma demo, tapi bikin solusi,” ujar Aos Kuswandi.
Sementara itu, melalui peran the guardian, mahasiswa diharapkan mampu menjaga demokrasi. Sedangkan sebagai the builder, mahasiswa didorong untuk tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan setelah lulus, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan.
Mahasiswa Kupu-Kupu
Aos Kuswandi turut menekankan tiga hal yang perlu dimiliki mahasiswa, yakni skill, aksi, dan kontribusi. Menurutnya, mahasiswa perlu menguasai keterampilan yang relevan dengan kebutuhan masa depan, berani terlibat langsung di tengah masyarakat, serta memberikan kontribusi sesuai kapasitas dan minat.
“Jangan menjadi mahasiswa kupu-kupu. Kuliah pulang memang indah, tapi yang jadi pertanyaan sebelum pulang itu kalian ngapain aja?” tegasnya.
Selain itu, Aos Kuswandi menilai konsistensi menjadi salah satu kunci penting dalam mencapai tujuan. Menurutnya, apa yang ingin dicapai mahasiswa dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan sangat ditentukan oleh tindakan yang dilakukan sejak hari ini. “Konsisten. Kalau bosenan, dan mudah putus asa, nggak akan bisa,” pungkas Aos Kuswandi.***
Kontributor: Pauline Sigar
Editor: Iwan Ngadiman

