Bandung, Merdeka17.id – “Saya ingin menekankan agar bahasa Inggris ini jangan berhenti sebagai mata pelajaran yang diajarkan karena tidak akan menjadikan anak didik kita itu mahir berbahasa kalau hanya berhenti sebagai pelajaran tapi harus betul-betul sebagai alat untuk berkomunikasi.”
Demikian Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat saat meluncurkan program Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI), yakni pelatihan bagi guru SD dalam mengajar Bahasa Inggris di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Barat pada Jum’at, 08 Mei 2026.
Siaran pers Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, Sekretariat Jenderal, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyebutkan bahwa peluncuran ini menjadi tanda arah baru transformasi pendidikan Indonesia menjelang penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran (Mapel) wajib di tingkat Sekolah Dasar mulai tahun ajaran baru 2027/2028.
Program peningkatan kapasitas ini merupakan respons atas masih rendahnya peringkat Indonesia dalam Indeks Kecakapan Bahasa Inggris global. Berdasarkan hasil pemeringkatan yang dilakukan oleh Education First EPI (English Proficiency Index, 2024), Indonesia menempati ranking 80 dari 116 negara di dunia, dan ranking 12 dari 23 negara di Asia.
Wamen Atip Latipulhayat juga memberikan penguatan kepada para guru peserta pelatihan agar mulai menggunakan Bahasa Inggris saat memberikan pembelajaran Bahasa Inggris agar para murid menjadi terbiasa. Ia juga optimis bahwa pelatihan ini mampu meningkatkan kecakapan guru Indonesia dalam memberikan pembelajaran berbahasa Inggris di kelas.
“Belajar Bahasa Inggris di SD jangan berhenti sebagai pelajaran. Oleh karena itu, berdialoglah dalam Bahasa Inggris saat menyampaikan pelajaran dan jangan takut untuk belajar Bahasa Inggris,” ungkapnya.

Sebanyak 5.777 Guru Ikut
Sementara itu, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikdasmen Nunuk Suryani mengungkapkan bahwa program PKGSD-MBI merupakan sebuah upaya akselerasi dalam meningkatkan kemahiran murid dalam berbahasa Inggris. Program pelatihan PKGSD-MBI didesain dengan pendekatan baru sehingga para peserta akan menjalani pelatihan dengan mudah dan menyenangkan.
“Sebanyak 5.777 guru dari 34 provinsi dan 177 Kabupaten/Kota dipastikan berpartisipasi dalam pelatihan tahap pertama ini. Jawa Barat merupakan provinsi dengan peserta terbanyak, dengan total peserta 609. Provinsi lain dengan jumlah peserta terbanyak adalah Jawa Tengah dengan 588 peserta, Jawa Timur 383 peserta, Riau 321 peserta, dan 278 peserta di Sulawesi Selatan,” tambah Nunuk Suryani.
Dirjen Nunuk Suryani juga menjelaskan bahwa dengan target 90.447 guru, maka pelatihan akan dilakukan secara bertahap setiap tahun. Tahun 2026, kami menargetkan untuk melatih 10.000 peserta, tahun 2027 sebanyak 30.000 peserta, tahun 2028 30.000 peserta, dan di 2029 sebanyak 20.447. Dengan skema ini, kebutuhan guru yang mengajar bahasa Inggris di SD akan tuntas dilatih di tahun 2029.
Komentar Mereka
Guru peserta PKG SD MBI asal Kabupaten Biak, Papua, Ima, mengaku program pelatihan tersebut membantunya membangun kepercayaan diri untuk mulai mengajar bahasa Inggris di sekolah dasar meski bukan berlatar belakang guru bahasa Inggris. Selama mengikuti pelatihan daring hingga in-service training, ia merasa mendapatkan kesempatan baru untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan mengajar demi mendukung pembelajaran siswa di daerahnya.
“Saya awalnya takut, malu, dan tidak berani karena saya bukan guru bahasa Inggris dan saya adalah guru PGSD. Namun lewat program ini saya bersyukur boleh mendapatkan kesempatan belajar lagi dan saya ingin menunjukkan kepada peserta didik saya bahwa bahasa Inggris tidak susah, bahasa Inggris is easy,” ungkapnya.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang Eka Ganjar Kurniawan mengatakan bahwa program ini sangat positif terutama di era pendidikan abad 21. Dalam mendukung program ini, Pemerintah Kabupaten Sumedang akan meningkatkan kompetensi guru kelas yang sudah ada dengan melakukan pelatihan secara mandiri.
“Dasar pendidikan bahasa Inggris sangat dibutuhkan agar murid mempunyai keunggulan kompetitif dan komparatif, baik itu di dalam maupun di luar negeri,” ujar Eka Ganjar Kurniawan.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Cimahi Nana Suyatna memandang dalam menghadapi tantangannya global, maka murid harus mengerti dan memahami bahasa Inggris. Ia juga menambahkan agar guru peserta pelatihan dapat memaksimalkan Komunitas Kelompok Belajar untuk dapat berbagi materi dengan guru lainnya.
Heni Mariana, guru SD Negeri Sukahaji, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta mengatakan bahwa pelatihan yang didapatkan dalam program PKGSD-MBI semakin membuatnya lebih percaya diri dalam memberikan pembelajaran bahasa Inggris kepada murid di kelasnya.
“Kami dilatih dalam kemampuan pedagogik dengan memberikan materi mengenai kehidupan sehari-hari anak. Kami juga diajarkan memanfaatkan peralatan audio visual agar pembelajaran lebih menarik,” jelasnya.

Luthfi Saadil Malik, guru SD Negeri Lembur Awi 01, Kabupaten Bandung mengatakan bahwa pada awalnya ia sedikit ragu untuk mengikuti pelatihan karena tidak mempunyai latar belakang pendidikan bahasa Inggris. Ia berpendapat bahwa sebagai seorang pendidik, kita harus mau belajar untuk terus bertumbuh. “Belajar bahasa akan menyenangkan asal ada kemauan. Jangan takut di awal, sepanjang mau belajar pasti bisa,” ujar Luthfi Saadil Malik.
Sebagai upaya pemerataan, guru SD yang belum tergabung dalam pelatihan, nantinya dapat belajar secara mandiri. Guru-guru SD dapat mengakses materi pelatihan melalui LMS dan modul melalui fitur Pembelajaran Mandiri di Rumah Pendidikan. serta pendampingan dari Fasda di UPT GTK Kemendikdasmen. Program PKGSD MBI adalah wujud komitmen bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar demi terwujudnya pendidikan bermutu untuk semua.***
Pewarta: Iwan Ngadiman

