Merdeka17.id – Lambannya penanganan keluhan publik/pasien di RSUP Kandou Manado diduga karena selain banyaknya “benalu yang menempel” di seputaran manajemen yang sudah keenakan “menghisap” kenikmatan, tidak profesional dalam bekerja, juga tidak ada keinginan untuk berubah menjadi lebih baik.
Mereka ini disinyalir adalah orang-orang yang menghalangi program Asta Cita dari Presiden Prabowo Subianto. Untuk itu, Merdeka17.id membentuk tim untuk mengulik satu per satu pelayanan di RSUP Kandou Manado dan akan dipublikasikan dalam beberapa episode.
Episode ke-6:
Sabtu, 02 November 2024 sekitar pukul 19.00 WITA pasien datang berobat ke IGD RS Kandou. Sekitar 20.10 WITA petugas selesai mengambil sampel urine dan darah untuk diperiksa laboratorium. Pasien diwanti-wanti akan menunggu selama 4 jam untuk mendapatkan hasil. Diperkirakan pukul 00.10 WITA pada Minggu, 03 November 2024 hasil laboratorium selesai.
Sekitar pukul 08.10 WITA pada Minggu, 03 November 2024 pasien menanyakan kedua kali ke petugas di ruang itu perihal hasil laboratorium. Karena jika ditotal maka pasien sudah menunggu 8 (delapan) jam namun hasil laboratorium tak kunjung jua.
Dijelaskan petugas bahwa khusus untuk pasien penyakit dalam, harus menunggu catatan dari dokter penanggung jawab penyakit dalam. Khusus pasien di IGD, dokter penanggung jawabnya adalah 3 dokter yang duduk di ruang depan.
Terjadilah cekcok antara pasien dan si dokter jaga perempuan. Terlontar kata-kata dari mulut dokter jaga bahwa dokter tersebut bukan yang melayani pasien yang itu bahkan menuduh bahwa pasien minta pulang.
Sekitar pukul 09.00-an pasien dipindahkan ke Ruang Kelas 1, Anggrek 2, Kamar 201. Hingga pukul 14.00 WITA pada Minggu, 03 November 2024, tetap tidak ada pelayanan medis apapun. Jika ditotal maka tidak adanya pelayanan medis terhadap pasien mencapai 14 (empat belas) jam.
Hal ini sudah disampaikan langsung kepada dokter jaga, yakni dr. Stephen Lapian dan Asisten Manajer Pelayanan Medik dr. Christy Natalia Alouw. Keduanya datang ke kamar pasien tidak bersamaan namun bubaran sama-sama.
Atas kejadian itu maka publik/pasien pun bertanya-tanya, selama 14 jam itu, Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) tersebut lagi berada di mana, dan alasan apa sehingga tidak memberikan jawaban tertulis ke dokter jaga di IGD yang membuat pasien merasa seperti ditelantarkan.
Publik/pasien juga perlu kejelasan tentang sanksi apa yang akan diberikan pihak RSUP Kandou Manado terhadap dokter tersebut manakala keterangannya tidak masuk akal atau lalai karena DPJP tersebut adalah biang ribut yang sebenarnya.***

