Merdeka17.id – Bagi Arifin Miu yang adalah Kepala Sekolah SD Negeri 52 Manado, tugas dan tanggung jawab seorang guru tidaklah mudah dalam upaya mencerdaskan anak bangsa. Sebab, sukses tidaknya peserta didik ada di tangan guru yang sudah dibekali dengan ilmu mendidik.
“Semua tergantung guru. Bagaimana caranya agar anak yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, kurang paham menjadi paham,” kata Arifin Miu saat ditemui di ruang kerjanya pada Rabu, 05 Februari 2025.
Dikatakan, kebanggaan seorang guru ketika melihat anak didiknya berhasil sehingga guru harus menggunakan sumber daya yang dimiliki untuk mengajar anak-anak dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang.
Makanya, seorang guru harus meningkatkan kompetensinya sesuai dengan kemajuan jaman. Sebagai pimpinan sekolah, Arifin Miu yang mantan Kepala Sekolah SD Negeri 53 Manado ini memberikan kebebasan kepada para guru untuk berkreasi sesuai tugas pokok dan fungsinya (tupoksi).
“Jadilah guru yang dicintai dan dirindukan peserta didik. Jangan asal mengajar sehingga tidak menghasilkan apa-apa,” ujarnya.
Perhatian terhadap anak tjdak hanya di sekolah. Jika sudah beberapa hari siswa tidak masuk sekolah guru harus cari tahu. Datangi rumahnya, mungkin ada masalah keluarga, sakit, dan lainnya.
Bahkan jika ada siswa yang sakit dan tidak ada uang untuk berobat, Arifin Miu mengajak para guru untuk mengumpulkan uang untuk membantu seikhlasnya.
Sosok kepala sekolah yang murah senyum dan suka humor ini lebih jauh menjelaskan bahwa penerapan kebijakan Kemdikdasmen tentang 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH) yang meliputi bangun pagi, berdoa, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta istirahat cepat, di SD Negeri 52 Manado sudah berjalan baik.
Dimulai dari kebiasaan bangun pagi, berdoa, makan makanan bergizi, berolahraga, gemar belajar, suka bermasyarakat, dan tidur cepat agar bisa bangun pagi.
Guna memantau kebiasaan baik anak di rumah perlu keterlibatan orang tua. Setiap wali kelas juga mengawasi siswanya melalui WhatsApp Group dan dibuatkan jurnal setiap hari.
Terkait SAIH (Senam Anak Indonesia Hebat) ternyata sebagian besar sudah dikuasai oleh anak-anak. Setiap minggu ada 3 kali senam sehat dilanjutkan dengan menyanyikan lagu-lagu nasional terutama Indonesia Raya. Hal ini untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap Tanah Air Indonesia.
Soal pengelolaan dana BOS, Arifin Miu selalu transparan kepada para guru karena RKAS dibuat bersama. Semua pengelelolaan dana BOS diserahkan kepada bendahara, tentu di bawah pengawasan kepala sekolah.

“Saya tidak pernah pegang uang, semuanya dibelanjakan oleh bendahara, saya hanya kontrol apakah sesuai dengan RKAS atau tidak,” katanya.
Baginya, yang bukan hak tidak boleh diambil. Kerja harus ikhlas agar menjadi berkah bagi keluarga. “Lebih baik memberi daripada menerima,” pungkasnya.***
Kontributor: Meldi Sahensolar
Editor: Iwan Ngadiman

