“Mahasiswa harus benar-benar mengenali persoalan riil di masyarakat. Mereka juga harus mampu membangun soft skill, bekerja sama dalam tim, dan menunjukkan kemampuan melahirkan inovasi. Itulah yang menjadi ukuran keberhasilan mereka selama menjalani KKT.”
Ketua Pengelola KKT UNSRAT Prof. Dr. Ir. Rignolda Djamaluddin, M.Sc.
Manado, Merdeka17.id – Kuliah Kerja Terpadu (KKT) merupakan tahap penting yang harus dilalui mahasiswa sebelum menyandang gelar sarjana. Melalui program berbobot empat SKS itu, UNSRAT ingin memastikan setiap lulusan memiliki kemampuan akademik, karakter, serta kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
Hal itu dikatakan oleh Ketua Pengelola KKT UNSRAT Prof. Dr. Ir. Rignolda Djamaluddin, M.Sc., di Manado pada Jum’at, 17 Juli 2026 pagi. Menurutnya, mahasiswa yang mengikuti KKT merupakan mahasiswa semester akhir yang telah memenuhi persyaratan akademik. “Karena itu, mereka dituntut mampu membuktikan kompetensi yang dimiliki dengan terjun langsung ke tengah masyarakat, mengenali berbagai persoalan, lalu merumuskan solusi melalui program-program yang kreatif dan inovatif.
Ditambahkan, “Mahasiswa harus benar-benar mengenali persoalan riil di masyarakat. Mereka juga harus mampu membangun soft skill, bekerja sama dalam tim, dan menunjukkan kemampuan melahirkan inovasi. Itulah yang menjadi ukuran keberhasilan mereka selama menjalani KKT,” ujar Guru Besar dalam bidang Biologi Konservasi Mangrove di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, UNSRAT.
Ia menjelaskan, KKT Angkatan 148 kembali dipusatkan di Kota Bitung setelah terakhir dilaksanakan pada Angkatan 136 sekitar dua tahun lalu. Sebanyak 860 mahasiswa diterjunkan ke 68 kelurahan yang tersebar di delapan kecamatan, termasuk Pulau Lembeh. Menariknya, 170 mahasiswa memilih secara sukarela untuk mengabdi di wilayah kepulauan tersebut.
Prof. Dr. Ir. Rignolda Djamaluddin, M.Sc. juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Bitung dan masyarakat yang dinilainya sangat terbuka terhadap kehadiran mahasiswa UNSRAT. Saat ini para peserta KKT sedang menyusun program kerja berdasarkan hasil observasi lapangan, yang selanjutnya akan dievaluasi sebagai bagian dari penilaian terhadap kemampuan mereka mengidentifikasi masalah dan menghadirkan solusi yang berdampak bagi masyarakat.
Ia berharap KKT tidak hanya menjadi syarat akademik menuju kelulusan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran yang membentuk karakter, kepemimpinan, dan kepekaan sosial mahasiswa. “Kami ingin masyarakat ikut menilai bagaimana kualitas lulusan UNSRAT. Harapannya, kehadiran mahasiswa dapat memberikan manfaat nyata melalui inovasi sekaligus mendukung program pembangunan Pemerintah Kota Bitung,” pungkasnya.***
Pewarta: Iwan Ngadiman

