Manado, Merdeka17.id – Tadinya, mereka bisa menikmati berkat kesejukan yang disediakan oleh alam secara cuma-cuma, kini semakin berkurang. Tak bisa dipungkiri, suatu hari kelak, udara segar, kesejukan, tempat berteduh, bahkan penghilang rasa stres alami, pasti akan semakin susah dicari.
Andai saja pemberi perintah tebang itu tidak seenak jidatnya membabat 7 (tujuh) pohon termasuk mahoni yang tumbuh di kompleks Gelora Wolter Mongisidi Sario, Manado maka suplai oksigen O2 dan penyerapan karbon dioksida CO2 gratis tidak akan terganggu keseimbangannya.
Kini, semuanya tinggal kenangan. Dan orang yang paling bertanggung jawab adalah si “Pemberi Perintah Tebang” itu yang diduga kuat adalah pejabat di Dinas Kepemudaan dan Olah Raga Daerah Provinsi Sulawesi Utara.
Apalagi di level bawah, isu nama gubernur dicatut dan disebut-sebut sebagai pemberi perintah. Tak heran, hingga Kamis, 08 Mei 2025 para pekerja masih tampak di Lapangan KONI Sario.
Mengancam Keselamatan
Perintah tebang sudah dilakukan sejak beberapa bulan lalu. Ironisnya, sudah ada saran dari masyarakat–dari percakapan di WhatsApp– bahwa sebaiknya pohon mahoni itu jangan ditebang namun tak digubris.
Dalam percakapan itu, si “Pemberi Perintah Tebang” memberikan alasan bahwa sudah ada laporan dahan patah yang mengancam keselamatan orang. Untuk itu, perlu dipangkas. Eh, bukannya dipangkas malah ditebang alias dibabat.

Pengrusakan Lingkungan
Pemerhati sekaligus pencinta lingkungan Arie Timbuleng, S.H. mengkategorikan bahwa kasus ini adalah pengrusakan lingkungan hidup. Sebagai mantan Polisi Hutan, dia pun mengungkapkan bahwa pohon mahoni seumuran ini, baik kayu dan limbahnya, memiliki nilai ekonomis yang signifikan karena mahal dan langka.
“Kami mendorong agar pihak penebang mempublikasikan keberadaan kayu dan limbah pohon mahoni tersebut,” tegas Arie Timbuleng.
Beberapa sumber di Lapangan KONI Sario Manado mengaku tidak tahu di mana rimbanya batang-batang pohon tersebut. “Bahkan untuk meminta sisa-sisa pohon (limbah) yang ditebang, yakni dahan dan cabang, pihak penebang tidak mengizinkannya,” jelas sumber.
Banyak Titik Banjir
Akademisi Unsrat Prof. Dr. Ir. Winda Mercedes Mingkid, M.Mar.Sc. berpendapat bahwa akibat dari semena-mena dan tidak mau mendengarkan saran maka berkesan pemerintahan otoriter. “Hubungan stakeholder sedang tidak baik-baik saja.”
Baik Arie Timbuleng maupun Winda Mercedes Mingkid mengungkapkan bahwa para Wali Kota Manado terdahulu–Wempie Frederik dan Vicky Lumentut– sudah menata kota ini untuk menjadi lebih hijau dan memberi kesejukan. Namun, karena tidak suka mendengarkan saran maka tidaklah mengherankan jika Manado semakin panas dan semakin banyak titik banjir.
Tidak Berizin
Prof. Dr. Ir. Janny D. Kusen, M.Sc. dan Toar Palilingan, S.H., M.H. mencontohkan sebagaimana di Belanda dan Jerman, setiap pohon yang ditanam, sekali pun di halaman sendiri, otomatis menjadi milik publik dan didaftar ke Pemkot. “Kalu mo tebang ato pangkas musti minta ijin Pemkot,” kata Janny D. Kusen
Toar Palilingan yang merujuk pada Peraturan Daerah Kota Manado Nomor 2 Tahun 2019 Pasal 11 berkomentar bahwa penebangan 7 (tujuh) pohon termasuk mahoni di Gelora Wolter Mongisidi Manado harus mendapatkan izin dari Pemkot Manado atau Wali Kota Manado.
“Sesuai perda, tebang pohon yang berada dalam wilayah administrasi pemerintahan Kota Manado harus se-izin Pemkot Manado atau izin Kepala Daerah,” tegas Toar Palilingan.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Manado Pontowuisang Kakauhe dalam chit-chat singkat di Gelora Wolter Mongisidi pada Senin, 05 Mei 2025 tidak menampik bahwa penebangan pohon-pohon itu liar.
Manfaat Pohon
Pohon adalah penghasil oksigen, menjaga keseimbangan iklim, penyerap air dan mencegah banjir, pengatur kualitas udara, habitat untuk flora dan fauna, menyediakan sumber makanan, menjaga kesuburan tanah, pengatur suhu lingkungan, bahan baku industri, dan nilai estetika dan rekreasi.
Selain itu, menurut Dr. dr. Nelly Mayulu, M.Si., Sp.KKLP dan Dr. Ir. Hanneke Pangkey, ternyata pohon menawarkan banyak manfaat kesehatan yang melampaui kontribusi lingkungannya. Mereka mengaktifkan area otak yang terkait dengan perhatian yang tidak disengaja, membantu orang rileks dan mengatasi stres dengan lebih baik.
Penelitian telah menunjukkan bahwa orang-orang dari segala usia mengalami pengurangan stres ketika dikelilingi oleh pepohonan. Pengurangan stres ini sangat penting untuk kesehatan mental dan kesejahteraan secara keseluruhan.
Maka, penebangan pohon yang tidak dikontrol secara baik dan ketat selain mengakibatkan kekeringan juga berdampak psikologis dan sosial serius. “Manado so kering kerontang. So itu tu motor, oto, so stres samua. Pasang knalpot racing dan lagu keras-keras karna stres kang,” kata Hanneke Pangkey.
Lapor Pak Gub
Para pemerhati dan pencinta lingkungan, akademisi, komunitas olah raga, dan warga sekitar menyesalkan sekaligus mengecam keras pembabatan 7 (tujuh) pohon termasuk mahoni di areal Gelora Wolter Mongisidi yang terletak di Kelurahan Sario Utara, Kecamatan Sario, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara yang dilakukan sejak sekitar sepuluh hari lalu.
Mereka, baik langsung ataupun tidak, adalah orang-orang yang paham bahkan terdampak langsung dari terganggunya ekosistem ini. Mereka berharap agar pemerintahan yang dipimpin oleh Gubernur Yulius Selvanus dan Wakil Gubernur Johannes Victor Mailangkay untuk bersikap arif dan bijaksana serta berhati-hati dalam penanganan lingkungan hidup.
Orang Yang Salah
Jangan menempatkan orang-orang yang salah dalam pemerintahannya, yang tidak mau mendengarkan saran dari masyarakat sehingga memberi kesan pemerintahan yang otoriter dan semena-mena, bahwa membabat pohon itu tanpa memikirkan dampak lingkungannya kelak, tidak terulang lagi.

Saran
Mungkin saran ini patut didengarkan, sebagaimana disampaikan oleh Dr. Leviane Jackelin Hera Lotulung, S.Sos., M.I.Kom., agar pemerintah melakukan sosialisasi atau pemberitahuan kepada masyarakat yang beraktivitas di sana.
Mengapa perlu sosialisasi, agar masyarakat tidak asal menuding pemerintah dengan hal yang negatif atau mengeluh dengan membuat konten di media sosial yang akan merusak nama baik pemerintah. Sekarang masyakarat memiliki berbagai platform untuk menyalurkan keluh kesahnya.
Atau pandangan Prof. Dr. Ir. Janny D. Kusen, M.Sc. bahwa pihak pemberi perintah tebang semestinya memotong satu pohon dulu dan lihat reaksi publik. Jika publik maklum, barulah ditebang seluruhnya. “Kalo skarang, ya, tanam ulang, kong tunggu 25 taong,” kata Janny D. Kusen.***
Pewarta: Iwan Ngadiman

