“Saya berharap anak-anak dapat memanfaatkan layanan fasilitas dan program besar dari Bapak Presiden ini dengan baik karena tidak semua anak berkesempatan bersekolah di sini.”
Kepala SNT 6 Bone Bolango Surahmat Hasjim
Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, Merdeka17.id – Suara anak-anak menyanyikan lagu Aku Bisa terdengar dari salah satu ruang kelas SNT 6 Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Di sana, pembelajaran tidak sebatas pada buku dan papan tulis. Lewat lagu, percakapan, hingga keberanian tampil di depan kelas, anak-anak diajak mengenali kemampuan sekaligus membangun keyakinan bahwa mereka mampu.
Bagi Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq, momen sederhana itu menyimpan pelajaran penting bahwa mental juara perlu dilatih sejak dini. “Dari pembelajaran di sini, pelajaran yang bisa diambil adalah adik-adik harus optimis. Saat gagal, bangkit lagi. Seorang pemenang itu adalah mereka yang bangkit setiap kali gagal,” ujarnya saat berdialog dengan para murid, Rabu, 19 Agustus 2026 di lokasi transit SNT 6 Bone Bolango yang berada di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Gorontalo, di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.
Pada kesempatan itu, Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq juga mengajak generasi muda untuk tidak berhenti mengembangkan kemampuan, termasuk bahasa asing. “Zaman sekarang mudah mempelajari bahasa asing. Caranya bisa lewat kanal media sosial sampai lewat,” tuturnya.
Semangat untuk terus belajar rupanya tidak hanya tumbuh pada murid. Guru Bahasa Indonesia di SNT 6, Firda Aulia Shalihah, justru merasa tertantang oleh semangat belajar anak-anak didiknya. “Murid di sini mayoritas bersekolah karena dorongan diri sendiri dan mereka punya kemampuan dan mau mengembangkan itu serta didukung oleh para orang tua,” ungkapnya.
Hal tersebut mendorong Firda untuk terus meningkatkan kapasitas diri. “Jadi, itu yang bikin saya ‘Wah, saya ini harus juga sama seperti mereka’. Semangat untuk upgrade diri harus lebih dari mereka,” ujarnya antusias.
Oleh karena itu, di kelas Bahasa Indonesia, Firda ingin membangun budaya literasi dalam ruang yang kolaboratif. Sebab, dewasa ini kebiasaan membaca pada anak harus gencar dilakukan supaya mereka terlatih untuk mampu memahami informasi secara mendalam dan bijak menyikapi asupan informasi di tengah derasnya arus konten digital. “Dalam berliterasi itu kita butuh waktu untuk membaca informasi dan memahaminya dengan baik. Selain itu, saya meyakini bahwa belajar itu bukan dari satu sumber. Bisa jadi guru ini dapat informasi juga dari murid. Jadi, di situ kita sharing,” katanya.
Selama dua minggu berinteraksi bersama anak-anak, ia menemukan sesuatu yang menurutnya berharga dari para murid yaitu kemampuan menghargai keunikan satu sama lain. “Saya temukan, kalau anak punya kemampuan dan dia fokus di situ, ternyata dia itu tidak mudah untuk iri terhadap orang lain. Saya menyaksikan, ketika satu orang temannya maju untuk tampil, murid yang lain support. Mereka tidak saling meledek,” terangnya.
Ekosistem pembelajaran yang kondusif dirasakan oleh salah satu murid SMA kelas XB di SNT 6, Nurfadhilah Ramadhani Djamal. Baginya, suasana seperti itu membuat suasan belajar menjadi sangat nyaman. “Teman-teman di sini baik, tidak ada bully,” ujarnya yang telah beberapa kali menjuarai olahraga atletik tingkat kabupaten dan provinsi serta bercita-cita menjadi Menteri Luar Negeri.
Hal serupa turut dirasakan murid kelas VII, Muhammad Rheza Dama datang dengan tekad untuk menjadi versi terbaik dirinya. “I want increase myself to get the better version,” ucapnya saat ditanya alasan mendaftar di SNT 6 Bone Bolango. Ia mulai tertarik pada bahasa Inggris sejak kelas 4 SD melalui gim dan video. Rheza yang gemar bermain catur dan bercita-cita menjadi grandmaster itu menjadikan SNT sebagai sarana untuk mengasah kemampuan bahasa Inggrisnya bersama guru dan teman-temannya.
Kepala SNT 6 Bone Bolango Surahmat Hasjim berharap agar kesempatan belajar di SNT benar-benar dimanfatkan oleh para murid untuk bekal masa depan mereka. “Saya berharap anak-anak dapat memanfaatkan layanan fasilitas dan program besar dari Bapak Presiden ini dengan baik karena tidak semua anak berkesempatan bersekolah di sini,” ujarnya. Ia berpesan agar para guru terus menjaga kompetensi dan memastikan lulusan SNT memiliki kualitas yang baik.
SNT ibarat sebuah “laboratorium besar” tempat guru dan murid dapat saling berbagi, bertukar pengetahuan, dan menumbuhkan potensi. Di ruang-ruang belajar itulah mental juara dibentuk bukan tentang selalu menang, melainkan tentang berani mencoba, saling menguatkan, terus belajar, dan bangkit ketika menemui kegagalan.***
Kontributor: Denty Anugrahmawaty; Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, Sekretariat Jenderal, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Editor: Iwan Ngadiman

