Bandung, Merdeka17.id – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) Gelombang 2, Tenaga Kependidikan, sekaligus Penutupan Pelatihan Program Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar dalam Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI).
Kegiatan ini juga diikuti secara daring oleh peserta BCKS di enam Unit Pelaksana Teknis (UPT) lainnya yakni Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Aceh, BGTK Lampung, KGTK Gorontalo, BBGTK Jawa Tengah, BBGTK Jawa Timur, dan BBGTK Sulawesi Selatan. Sebanyak 40 kelas yang mengikuti kegiatan dari berbagai daerah tersebut turut menyimak kegiatan ini secara daring dari UPT masing-masing.
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Nunuk Suryani menyampaikan bahwa hingga Agustus 2026, sebanyak 5.704 peserta telah mengikuti Pelatihan BCKS. Sebanyak 3.033 peserta dibiayai APBN dan 2.671 peserta melalui APBD. Capaian tersebut menunjukkan kolaborasi pemerintah pusat dan daerah dalam menyiapkan calon kepala sekolah yang kompeten.
“Sudah hampir 80% pemenuhan kebutuhan kepala sekolah terpenuhi,” ujar Nunuk di BBGTK Jawa Barat, Jum’at, 28 Agustus 2026. Ia menambahkan, jumlah peserta masih akan bertambah karena sejumlah pelatihan yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jawa Barat masih dalam proses seleksi substansi.
Terkait Pelatihan BCKS Gelombang 2 yang diadakan Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Barat ini, telah berlangsung sejak 14 Agustus 2026 hingga 30 Agustus 2026 mendatang. Pelatihan BCKS diikuti 415 peserta yang berasal dari 10 kabupaten di Jawa Barat mulai dari jenjang TK hingga SLB. Pelatihan dilaksanakan dengan mengombinasikan pembelajaran mandiri melalui LMS dan tatap muka melibatkan para widyaiswara di Unit Pelaksana Teknis (UPT) GTK, kepala sekolah mentor dari berbagai jenjang. Khusus di Jawa Barat, untuk BCKS SMK bermitra dengan dunia usaha dan industri yaitu PT Len Industri (Persero) di Bandung.
Dirjen Nunuk Suryani berharap, dengan dukungan partisipasi pelatihan ini dapat melahirkan pemimpin pendidikan yang kompeten, visioner, dan siap membawa transformasi di sekolah masing-masing. Secara bersamaan sedang berlangsung Pelatihan BCKS oleh beberapa UPT lainnya dengan jumlah partisipan sekitar 1.300 peserta. Adapun UPT yang menyelenggarakan yaitu BGTK Aceh, BGTK Lampung, KGTK Gorontalo, BBGTK Jawa Timur, BBGTK Jawa Tengah, dan BBGTK Sulawesi Selatan.
Sampai bulan Agustus 2026, Ditjen GTK melalui Direktorat KSPSTK telah melakukan intervensi pelatihan Tenaga Kependidikan (Tendik) kepada 633 peserta dan 220 fasilitator. Sepanjang 2026, rencana pelatihan tendik diikuti sebanyak 1.860 peserta oleh 27 UPT GTK dengan pembiayaan APBN dan APBD. Pelatihan ini dikhususkan untuk operator sekolah, bendahara sekolah, tenaga laboratorium, dan perpustakaan.

Perubahan di Kelas
Bagi Hetty Kusmiati–guru Bahasa Indonesia SMPN 2 Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat–, mengikuti pelatihan BCKS ini membuatnya merasa mendapatkan bekal baru untuk memimpin sekolah dan meningkatkan kualitas pembelajaran. “Ilmunya sangat bermanfaat untuk diterapkan sebagai pemimpin di sekolah, menjadi seorang kepala sekolah yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah menuju pendidikan yang gemilang,” ujar Hetty.
Berangkat dari materi-materi yang ia terima, Hetty mulai membayangkan perubahan yang akan dilakukan ketika mendapat amanah memimpin sekolah. Ia ingin menerapkan pengetahuan tentang pengelolaan sekolah, pola pikir kepemimpinan, kompetensi sosial, komunikasi, kemitraan, hingga pengelolaan sumber daya sekolah. “Saya sudah mendapat inspirasi-inspirasi baru yang mungkin nanti akan saya terapkan ketika saya menjabat sebagai kepala sekolah,” ungkapnya.
Semangat serupa disampaikan Budiyanto–guru dari Kabupaten Purwakarta. Menurutnya, BCKS memberikan pengetahuan baru tentang kepemimpinan dan manajemen sekolah. “Program BCKS sangat perlu sekali. Program ini harus dirasakan oleh semua kepala sekolah,” tuturnya.
Ia pun membawa tekad untuk melakukan perubahan ketika mendapat kepercayaan memimpin sekolah. “Saya akan mereformasi pendidikan di sekolah itu ke arah perubahan yang lebih baik lagi, sesuai dengan apa yang saya dapatkan ilmunya dari sini,” ujar Budiyanto.
Dalam kesempatan yang sama, turut bergabung secara daring, peserta Pelatihan BCKS dari Aceh. Mewakili peserta lainnya, salah satu peserta menyampaikan harapan selepas kegiatan ini, ia dapat menjadi kepala sekolah yang transformatif dan mampu berkontribusi guna meningkatkan mutu pendidikan. Tak ketinggalan, perwakilan peserta dari Lampung juga menyampaikan pendapat bahwa pelatihan ini memberinya bekal tentang keteladanan sebagai kepala sekolah dan mengajarkan strategi untuk mengelola sumber daya di satuan pendidikan.
Penguatan kompetensi guru menjadi penting terutama dalam menghadapi transisi bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dasar mulai tahun ajaran 2027/2028. Terlebih, banyak guru memiliki latar belakang pendidikan nonbahasa Inggris. Oleh karena itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti berharap, pelatihan ini mampu melahirkan guru yang percaya diri menggunakan bahasa Inggris, membangun komunitas belajar, serta mengembangkan budaya belajar melalui refleksi, kolaborasi profesional, dan komunitas belajar. “Jangan biarkan komunikasi dan kolaborasi berakhir di sini. Bangun dan pelihara jejaring profesional yang saling menguatkan, berbagi, dan belajar,” pesan Abdul Mu’ti.
Selain itu, Mendikdasmen juga menekankan pentingnya kolaborasi para pemangku kepentingan dalam menciptakan SDM bermutu yang mampu menggerakkan ekosistem pendidikan. Ia menyampaikan bahwa kekuatan pendidikan terletak pada kolaborasi. “Pendidikan bermutu lahir dari kolaborasi dan semangat berbagi, bukan dari kerja sendiri,” pungkasnya.***
Kontributor: Denty Anugrahmawaty; Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, Sekretariat Jenderal, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Editor: Iwan Ngadiman

