Manado, Merdeka17.id – Di tengah kekisruhan yang terjadi di UNSRAT saat ini, media ini beruntung bisa mengajak chit-chat seorang dosen dengan jabatan akademik tertinggi, yakni guru besar/profesor yang selama ini sulit disentuh, berkarakter kuat, tegas, berani, dan punya wawasan akademik yang tidak diragukan lagi.
Beliau ini terlahir dari seorang ibu dari Tomohon dan ayah dari Medan. Karakternya yang disiplin dan tidak mudah di ponge kiri, ponge kanan menegaskan kemandirian dan kematangan. Mungkin pengaruh didikan dan gemblengan sang ayah yang adalah seorang anggota MOBRIG (mobile brigade; sekarang BRIMOB).
Diskusi pun tidak di tempat wow. Hanya santai ditemani kopi dan gorengan pisang di kantin FISIP UNSRAT pada Senin, 10 Agustus 2026 sore. Semula, merdeka17.id meragukan keseriusannya untuk bertemu. Tepat 15 menit kemudian, sebagaimana yang ia janjikan, dia muncul. Inilah bukti bahwa orang ini bisa dipercaya dan konsisten dengan apa yang pernah diucapkannya.
Penasihat
Prof. Dr. Ir. Rignolda Djamaluddin, M.Si. adalah Guru Besar dalam bidang Biologi Konservasi Mangrove di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Sam Ratulangi. Bersama 20 orang lainnya, dia dikukuhkan sebagai guru besar pada Kamis, 16 Januari 2025 di Auditorium UNSRAT. Saat ini, dia adalah Ketua Pengelola KKT UNSRAT.
Saat mulai berbicara, suaranya yang bak bariton bas menggelar memecah keriuhan di kantin tersebut. Tidak kurang dari empat jam kami ngobrol. Bahkan hingga pemilik kantin pamit pergi saking lamanya, kami pun masih di situ. Kami membahas panjang lebar tentang UNSRAT saat ini. Kata-kata yang keluar dari mulutnya terstruktur baik dan objektif. Cocok dijadikan sebagai penasihat.
Dua Pertimbangan
Ketika disinggung tentang hal yang perlu diperhatikan oleh Plt. Rektor UNSRAT Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc. yang akrab disapa Prof. JJ, Prof. Dr. Ir. Rignolda Djamaluddin, M.Si. memberikan pandangannya.
“Pertama, soal pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan itu semestinya mempertimbangkan situasi yang ada di UNSRAT secara tepat. Kenapa? Karena tidak bisa keputusan administrasi dibuat kemudian yang terimbas yang ter-impact oleh keputusan administrasi yang justru tebak menebak. Dan itu kan yang terjadi. Apa ini? Apa itu? Kong bagaimana menjalankan tugas?
Kedua adalah, sejatinya yang paling pas untuk kontes UNSRAT itu adalah bagaimana kemudian kementerian itu, menugaskan pejabat kementerian untuk memimpin proses suksesi ini. Bukan pada level rektor perguruan tinggi. Karena suka tidak suka akan terjadi resistensi yang secara subjektif yang akan kemudian menyebabkan masalah baru juga muncul. Yang akhirnya torang nda akan pernah fokus pada persoalan substansi yang harus semestinya segera diselesaikan. Saya kira dua hal itu yang harus dipertimbangkan.”

Figur Rektor ke Depan
Ketika didesak, figur yang bagaimana yang pantas memimpin UNSRAT ke depan? Prof. Dr. Ir. Rignolda Djamaluddin, M.Si. walaupun agak enggan namun akhirnya berkomentar dengan sangat-sangat hati-hati sekali.
Pertama, punya pengalaman yang bagus sebagai seorang akademisi, bersih segala-galanya, tidak cacat administrasi, dan mempunyai jejaring yang luas.
Kedua, memiliki karakter yang kuat, tegas, berani. “Orang yang mampu mengatakan kalau memang ‘yes, yes; no, no’.”***
Pewarta: Iwan Ngadiman

